• This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
  •                                                       

    Adisty Widyan Perwita Sari, gelar Pendampingan Perangkat Desa dalam Mengembangkan UMKM dan Memfasilitasi NIB di Desa Bebel (31/07/2024) (foto: dokumen pribadi)

    Pekalongan - Tim II Kuliah Kerja Nyata (KKN) UNDIP di Desa Bebel, Kecamatan Wonokerto gelar Pendampingan Perangkat Desa dalam Mengembangkan UMKM dan Memfasilitasi NIB di Desa Bebel (31/07/2024).

    Pelaksanaan program kerja tersebut dilakukan secara personal pada para perangkat desa di Kantor Balai Desa Bebel dan door to door beberapa pelaku UMKM

    Desa Bebel merupakan salah satu desa di Kecamatan Wonokerto yang tergolong cukup maju. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya pelaku UMKM di desa tersebut. Dimana sebagian besar merupakan usaha yang bergerak di bidang food and beverages.

    Akan tetapi, pemerintah kesulitan dalam melakukan rekap daftar para pelaku UMKM tersebut dikarenakan tidak semua UMKM memiliki nomor izin berusaha atau Nomor Induk Berusaha (NIB) yang terdaftar di sistem pemerintahan. Akibatnya, pemerintah belum mampu mengawasi perkembangan UMKM di Desa Bebel.

    Terlebih lagi, dikarenakan penduduk masyarakat Bebel, yakni sekitar 3100-an merupakan penduduk berusia di atas 46 tahun, yang mana kurang melek terhadap pentingnya perizinan usaha.

    NIB sendiri memiliki manfaat penting, yaitu sebagai identias dan legalitas usaha agar tidak ada usaha serupa yang melakukan plagiasi terhadap usaha yang lainnya. Selain itu, dengan mendaftarkan NIB, para pelaku UMKM akan dimudahkan mendapatkan akses pembiayaan dari lembaga keuangan negara karena usaha mereka merupakan usaha yang sah dan teridentifikasi dengan jelas.

    Oleh karenanya, salah satu mahasiswi KKN UNDIP, Adisty Widyan berupaya menggelar program Pendampingan Perangkat Desa dalam Mengembangkan UMKM dan Memfasilitasi NIB di Desa Bebel, dengan harapan terbentuknya pribadi perangkat pemerintah desa yang mampu merangkul dan mewadahi para pelaku UMKM dalam upaya memajukan perekonomian desa.

    Program ini telah mendapatkan dukungan dari Kepala Desa Bebel dan Carik Desa Bebel. “Ini sangat menarik, ya Mbak. Memang kami kesulitan untuk melacak perkembangan UMKM karena beberapa dari mereka masih belum mendaftarkan NIB usaha mereka,” ujar Rohmah, Carik Desa Bebel.

    Demikian informasi terkait mahasiswi KKN UNDIP Desa Bebel melaksanakan program kerja monodisiplin mengenai Pendampingan Perangkat Desa dalam Mengembangkan UMKM dan Memfasilitasi NIB di Desa Bebel.

    Penulis: Adisty Widyan Perwita Sari, Ilmu Pemerintahan, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
    Dosen Pembimbing Lapangan: Dr. Tuswan, ST

  • Mahasiswa KKN Universitas Diponegoro Melakukan Penyuluhan K3LL Dasar Dalam Kapal di SD Negeri 01 Api Api

    Api Api, Kabupaten Pekalongan (02/08/2024) – Dalam upaya meningkatkan kesadaran akan keselamatan di laut sejak dini, Mahasiswa KKN Universitas Diponegoro menyelenggarakan kegiatan penyuluhan K3LL Dasar yang menarik di SD Negeri 01 Api Api. Kegiatan yang menyasar siswa kelas 6 ini berhasil menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan informatif.

     

    Bertempat di ruang kelas, para siswa disuguhi tayangan video yang berisi penjelasan mengenai K3LL Dasar yang harus diterapkan saat berada di kapal. Video yang dibuat secara khusus dan ditayangkan menggunakan proyektor ini berhasil memikat perhatian seluruh siswa. Setelah menyaksikan video, para siswa diajak untuk mempraktikkan secara langsung beberapa teknik K3LL Dasar di depan kelas.

    Salah satu momen yang paling menarik adalah ketika perwakilan siswa maju ke depan untuk mempraktikkan cara mengenakan life jacket dengan benar. Kegiatan ini tidak hanya membuat siswa lebih memahami materi, tetapi juga memberikan pengalaman langsung yang tak terlupakan.

     

     

    Sebagai bentuk dukungan terhadap program ini, mahasiswa menyerahkan life jacket dan perlengkapan P3K kepada pihak desa dan sekolah. Bantuan ini diharapkan dapat dimanfaatkan untuk melengkapi sarana dan prasarana keselamatan di wilayah tersebut. Selain itu, seluruh siswa juga mendapatkan bingkisan menarik sebagai bentuk apresiasi atas partisipasi mereka.

    Auliya selaku penyelenggara mengungkapkan harapannya agar kegiatan serupa dapat terus dilakukan. "Kami berharap kegiatan ini dapat menginspirasi sekolah-sekolah lain untuk turut serta dalam meningkatkan kesadaran akan pentingnya K3LL. Dengan menanamkan kesadaran sejak dini, kita dapat menciptakan generasi muda yang sadar akan keselamatan," pungkasnya.

     

    Penulis : Auliya Rizky Ramadhanti

  • Api-Api, (21/08/2024) Sampah merupakan salah satu masalah lingkungan terbesar yang dihadapi masyarakat. Setiap harinya, jutaan ton sampah dihasilkan dari kegiatan rumah tangga, industri, dan komersial. Ketika sampah tidak dikelola dengan baik, terutama sampah non-organik seperti plastik, dampaknya bisa sangat merusak lingkungan. Masalah sampah plastik telah menjadi isu lingkungan yang serius di banyak daerah, termasuk di Desa Api-Api, Kecamatan Wonokerto, Kabupaten Pekalongan. Botol plastik, sebagai salah satu jenis sampah yang paling banyak ditemukan, seringkali tidak dikelola dengan baik sehingga menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan sekitar. Untuk mengatasi masalah ini, saya mengadakan program Kuliah Kerja Nyata (KKN) mengubah sampah botol plastik menjadi produk yang bermanfaat melalui kerajinan tangan. Pengelolaan sampah yang efektif memerlukan partisipasi aktif dari seluruh lapisan masyarakat. Maka dari itu saya mencoba dari kalangan anak-anak khusunya SDN 01 Api-Api untuk melakukan pendekatan seperti Reduce, Reuse,dan Recycle (3R) yaitu Mengurangi penggunaan produk sekali pakai, mendaur ulang bahan yang bisa digunakan kembali, serta memanfaatkan sampah menjadi produk baru adalah langkah-langkah yang bisa diambil untuk mengatasi masalah ini. Edukasi dan kesadaran lingkungan juga sangat penting agar masyarakat lebih bertanggung jawab dalam mengelola sampahnya, sehingga dapat tercipta lingkungan yang bersih, sehat, dan lestari untuk generasi mendatang.

    Program kerja KKN ini bertujuan untuk mengurangi jumlah sampah plastik di Desa Api-Api dengan cara mendaur ulang botol plastik menjadi kerajinan tangan yang bernilai guna. Salah satu produk yang dihasilkan dari program ini adalah tempat pensil yang dibuat dari botol plastik bekas. Selain membantu mengurangi sampah, program ini juga bertujuan untuk meningkatkan kreativitas masyarakat, khususnya anak-anak SDN 01 Api-Api dalam mengolah sampah menjadi barang yang memiliki nilai jual. Selama pelaksanaan program, mahasiswa KKN memberikan pelatihan kepada siswa-siswi SDN 01 Api-Api tentang cara membuat tempat pensil dari botol plastik bekas. Kegiatan ini diawali dengan pengumpulan botol plastik dari lingkungan sekitar sekolah. Setelah itu, para siswa diajari teknik-teknik dasar dalam memotong, mengecat, dan menghias botol plastik menjadi tempat pensil yang menarik. Program ini tidak hanya mengasah kreativitas siswa, tetapi juga mengajarkan mereka pentingnya mendaur ulang sampah dan menjaga kebersihan lingkungan. Hasil dari kegiatan ini adalah berbagai tempat pensil unik dan fungsional yang dihasilkan oleh para siswa, sekaligus peningkatan kesadaran mereka akan pentingnya pengelolaan sampah.

    Sebelum melakukan hias botol dilakukan edukasi tentang bahaya sampah botol plastik bagi lingkungan. Dalam kegiatan edukasi ini menjelaskan kepada siswa-siswi mengenai proses degradasi plastik yang sangat lambat, yang dapat berlangsung selama ratusan tahun. Mereka juga memaparkan dampak buruk dari akumulasi sampah plastik di lingkungan, seperti pencemaran tanah, air, dan laut, serta ancaman terhadap kehidupan satwa yang sering kali terjerat atau mengonsumsi plastik. Kegiatan ini diakhiri dengan ajakan kepada siswa-siswi untuk berperan aktif dalam menjaga lingkungan dengan cara mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, memilah sampah, dan mendaur ulang botol plastik menjadi barang yang bermanfaat. Para siswa juga diajak untuk menularkan pengetahuan ini kepada keluarga dan teman-teman mereka, sehingga dampak positif dari edukasi ini dapat meluas ke masyarakat sekitar. Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan generasi muda di Desa Api-Api dapat tumbuh dengan kesadaran lingkungan yang tinggi, serta mampu berkontribusi dalam upaya pelestarian alam di masa depan.

    Penulis : Lintang Caktiastika Aulia Rachman

  • Mahasiswa KKN Universitas Diponegoro memberikan penyuluhan mengenai pentingnya maintenance mesin pada kapal

    Desa Api Api, [28/07/2024] – Dalam upaya meningkatkan keselamatan dan efisiensi operasional kapal nelayan, sebuah kegiatan penyuluhan maintenance mesin kapal digelar di Galangan Kapal Tratebang. Kegiatan yang diinisiasi oleh Auliya Rizky yang merupakan Mahasiswa KKN Universitas Diponegoro ini menyasar langsung kepada masyarakat pemilik kapal dan nelayan di Desa Api-api.

    Kegiatan yang berlangsung pada 28 Juli 2024 ini menghadirkan Bapak Trisno, seorang mekanik kapal berpengalaman yang sudah lama berkecimpung di Desa Api-api. Sebagai sosok yang sangat dipercaya oleh para nelayan, Pak Trisno berbagi pengetahuan dan pengalamannya dalam praktik maintenance mesin kapal sehari-hari.

    Bapak Trisno melakukan pemaparan praktik langsung mengenai maintenance mesin pada kapal

    "Dengan perawatan yang tepat, mesin kapal akan lebih awet dan kinerja kapal pun akan lebih optimal," ujar Pak Trisno dalam pemaparannya.

    Pemaparan praktek perawatan mesin kapal oleh Bapak Trisno

    Mahasiswa Berikan Sentuhan Teoritis

    Mahasiswa menjelaskan secara teoritis mengenai maintenance mesin kapal

    Selain praktik, aspek teoritis maintenance mesin kapal juga disampaikan oleh mahasiswa. Dalam pemaparannya menggunakan media powerpoint dan poster yang telah dicetak dan dibagikan untuk menjelaskan secara detail mengenai berbagai komponen mesin kapal, cara kerja, serta prosedur perawatan yang benar. Visualisasi yang menarik membuat materi yang disampaikan mudah dipahami oleh peserta yang sebagian besar merupakan nelayan dengan latar belakang pendidikan yang beragam.

    "Kami berharap dengan adanya penyuluhan ini, para nelayan dapat lebih memahami pentingnya melakukan perawatan mesin kapal secara berkala. Ini tidak hanya akan meningkatkan keselamatan saat melaut, tetapi juga dapat meningkatkan hasil tangkapan," ungkap Auliya Mahasiswa KKN Universitas Diponegoro.

    Poster Edukasi Dibagikan

    Poster materi maintenance pada mesin kapal

    Sebagai bentuk apresiasi dan untuk memudahkan peserta dalam mengingat materi yang telah disampaikan, mahasiswa membagikan poster edukasi mengenai maintenance mesin kapal. Poster ini diharapkan dapat menjadi panduan bagi para nelayan dalam melakukan perawatan mandiri di kapal.

    Harapan ke Depan

    Mahasiswa KKN Universitas Diponegoro berharap kegiatan serupa dapat terus dilakukan secara berkala untuk meningkatkan kapasitas nelayan dalam merawat kapal mereka. Dengan demikian, diharapkan dapat mengurangi risiko kecelakaan laut dan meningkatkan kesejahteraan nelayan.

    Pembagian poster materi perawatan mesin kapal

    Penulis : Auliya Rizky Ramadhanti

  • Api-Api, (22/08/2024) Alur birokrasi merupakan serangkaian proses atau prosedur yang harus diikuti oleh individu atau kelompok dalam berinteraksi dengan lembaga pemerintah atau organisasi untuk menyelesaikan suatu urusan administratif. Alur ini biasanya mencakup langkah-langkah yang sistematis dan terstruktur, mulai dari pengajuan permohonan, verifikasi dokumen, hingga penyelesaian dan penerbitan keputusan atau dokumen yang dimohonkan. Alur birokrasi dirancang untuk memastikan bahwa setiap permohonan atau tindakan administratif diproses secara adil, transparan, dan sesuai dengan peraturan yang berlaku. Selain itu, alur birokrasi juga sering kali dianggap sebagai mekanisme pengawasan dan kontrol dalam pelaksanaan kebijakan publik. Dengan adanya alur yang jelas dan tertib, setiap tindakan administratif dapat dipertanggungjawabkan, dan setiap keputusan yang diambil dapat didasarkan pada data dan informasi yang valid. Namun, alur birokrasi juga sering kali dikritik jika terlalu rumit atau berbelit-belit, karena dapat memperlambat proses pelayanan publik dan menimbulkan ketidakpuasan di kalangan masyarakat yang membutuhkan layanan tersebut. Oleh karena itu, upaya untuk menyederhanakan alur birokrasi tanpa mengurangi aspek kepatuhan dan transparansi menjadi penting dalam reformasi administrasi publik.

    Proses pengurusan dokumen kependudukan, seperti Kartu Tanda Penduduk (KTP), Kartu Keluarga (KK), Akta Kelahiran, dan dokumen lainnya, dimulai dengan pengumpulan berkas persyaratan yang dibutuhkan. Calon pemohon harus menyiapkan dokumen-dokumen pendukung seperti fotokopi KTP, KK, surat nikah, dan dokumen lainnya sesuai dengan jenis permohonan. Setelah semua berkas lengkap, pemohon dapat mengajukan permohonan di kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) setempat atau melalui layanan online jika tersedia. Setelah berkas diajukan, petugas Disdukcapil akan memeriksa kelengkapan dan keabsahan dokumen yang diserahkan. Apabila semua persyaratan terpenuhi, petugas akan memproses permohonan tersebut sesuai dengan prosedur yang berlaku. Proses verifikasi ini meliputi pengecekan data pemohon di sistem administrasi kependudukan, yang memastikan bahwa tidak ada data yang ganda atau tidak valid. Jika ada kekurangan atau ketidaksesuaian dalam berkas, pemohon akan diminta untuk melengkapi atau memperbaikinya.

    Program kerja KKN pembuatan persyaratan dokumen kependudukan di Desa Api-Api bertujuan untuk membantu warga desa dalam memahami dan memenuhi persyaratan administratif yang diperlukan untuk mengurus berbagai dokumen kependudukan seperti Kartu Tanda Penduduk (KTP), Kartu Keluarga (KK), dan Akta Kelahiran. Program ini dirancang untuk memberikan pendampingan dan edukasi kepada masyarakat agar lebih mudah dalam mengurus dokumen penting tersebut, sehingga setiap warga desa dapat memiliki dokumen kependudukan yang lengkap dan sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.

     

    Penulis : Ariel Wisley Kurniawan

  • Sebelum adanya program kerja KKN "WhatsApp Community" Desa Api-Api mengalami kendala dalam hal komunikasi dan penyebaran informasi di antara warganya. Meskipun sebagian besar penduduk telah memiliki ponsel, akses informasi yang terkoordinasi dan efisien masih terbatas. Warga sering kali mengalami kesulitan dalam mendapatkan informasi terkait program pemerintah, kegiatan desa, atau pengumuman penting lainnya. Komunikasi antarwarga juga cenderung berjalan secara tradisional, seperti melalui pertemuan langsung atau pesan dari mulut ke mulut, yang tidak selalu efektif dan dapat menyebabkan keterlambatan dalam penyampaian informasi. Keterbatasan komunikasi ini juga berdampak pada partisipasi warga dalam kegiatan desa, termasuk dalam hal pengurusan dokumen kependudukan, program bantuan sosial, dan inisiatif komunitas lainnya. Banyak warga yang merasa kurang terinformasi atau tidak mendapatkan informasi sama sekali tentang kegiatan penting yang dapat meningkatkan kesejahteraan mereka. Hal ini menyebabkan rendahnya tingkat partisipasi warga dan lambatnya penyebaran informasi penting, yang berpotensi menghambat perkembangan desa secara keseluruhan.

    Terdapat beberapa manfaat untuk warga dengan adanya whatsapp komunitas ini yaitu, kemudahan akses informasi, peningkatan partisipasi dalam pengambilan keputusan, mempererat hubungan sosial. Sedangkan manfaat untuk perangkat desa yaitu efisiensi dalam penyampaian informasi, peningkatan transparansi pemerintahan desa, mempermudah koordinasi antar perangkat desa. Selain manfaat untuk warga dan perangkat desa Dalam pelaksanaan program KKN "WhatsApp Community" di Desa Api-Api, terdapat beberapa tantangan yang dihadapi dan solusinya telah dirumuskan. Tantangan teknis meliputi masalah jaringan, keterbatasan kuota internet, dan kemampuan warga dalam menggunakan smartphone. Untuk mengatasi hal ini, dilakukan sosialisasi penggunaan smartphone secara efektif dan diadakan kerja sama dengan provider lokal guna meningkatkan kualitas jaringan di desa. Selain itu, tantangan sosial muncul dari ketidakmampuan sebagian warga dalam mengoperasikan smartphone, yang diselesaikan melalui pembentukan kelompok belajar serta pendampingan oleh pemuda desa yang lebih paham teknologi. Terakhir, tantangan komunikasi seperti penyebaran informasi yang tidak relevan atau hoaks diatasi dengan membentuk aturan grup WhatsApp yang jelas dan menetapkan admin yang aktif untuk memantau serta memastikan bahwa hanya informasi penting dan akurat yang disebarkan di dalam grup.

    Program kerja KKN WhatsApp Komunitas di Desa Api-Api ini dirancang untuk mengoptimalkan penggunaan fitur komunitas pada aplikasi WhatsApp guna meningkatkan efektivitas komunikasi antara warga dan perangkat desa. Salah satu program utamanya adalah sosialisasi mengenai fitur-fitur WhatsApp komunitas yang belum banyak diketahui warga. Tim KKN akan mengadakan workshop singkat dan demo langsung untuk mempermudah warga memahami cara menggunakan aplikasi ini. Selain itu, tim juga akan membantu dalam pembuatan grup WhatsApp komunitas berdasarkan RT yang ada di Desa Api-Api. Selain sosialisasi, program kerja lainnya yang akan dilaksanakan adalah pembuatan konten yang informatif dan menarik untuk dibagikan di grup WhatsApp komunitas. Konten-konten ini dapat berupa pengumuman kegiatan desa, informasi penting seputar kesehatan, pertanian, atau pemberdayaan masyarakat, serta tips-tips bermanfaat sehari-hari. Tim KKN juga akan memfasilitasi interaksi antarwarga melalui kuis, polling, atau diskusi online. Dengan begitu, diharapkan warga menjadi lebih aktif berpartisipasi dalam kegiatan desa dan saling berbagi informasi. Untuk memastikan keberlangsungan program ini, tim KKN akan melakukan evaluasi secara berkala terhadap efektivitas WhatsApp komunitas. Evaluasi ini akan dilakukan melalui survei kepada warga dan perangkat desa. Hasil evaluasi akan digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk melakukan perbaikan dan pengembangan program di masa mendatang. Selain itu, tim KKN juga akan memberikan pelatihan kepada perangkat desa dalam mengelola grup WhatsApp komunitas, sehingga program ini dapat terus berjalan dengan baik meskipun setelah masa KKN berakhir.

    Penulis : Ariel Wisley Kurniawan

  • Pelaksanaan Program Kerja Inovasi Abon Ikan Tongkol sebagai Solusi Pencegahan Stunting di Desa Bebel

    Pada 2 Agustus 2024, Balai Desa Bebel menjadi saksi pelaksanaan program pelatihan pembuatan abon ikan tongkol yang diadakan oleh mahasiswa kuliah kerja nyata (KKN) dari Universitas Diponegoro. Kegiatan ini dihadiri oleh ibu-ibu PKK, kader posyandu, serta pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di desa tersebut. Dengan tujuan mengedukasi dan memberdayakan masyarakat, pelatihan ini mengombinasikan keterampilan praktis dengan pengetahuan gizi yang penting bagi kesehatan keluarga, sekaligus mendukung pencegahan stunting yang kian meresahkan.

    Program kerja pencegahan stunting yang dibawakan oleh mahasiswa KKN dibagi menjadi dua kegiatan besar, yakni pelatihan pembuatan abon ikan tongkol dan edukasi mengenai stunting. Pelatihan ini berawal dari pemahaman bahwa ikan tongkol merupakan salah satu sumber protein hewani yang melimpah dan bergizi, tetapi sering kali kurang dimanfaatkan secara optimal. Banyak rumah tangga terbiasa mengolah ikan dalam bentuk yang sama tanpa menyadari potensi ikan tongkol untuk dijadikan produk olahan yang lebih menarik dan bernilai ekonomi, seperti abon. Dengan meningkatnya prevalensi masalah gizi, terutama di kalangan anak-anak, mahasiswa KKN ini merasa perlu untuk memberikan solusi yang bermanfaat bagi masyarakat Desa Bebel. Selain pelatihan, rangkaian kegiatan edukasi lainnya (dilaksanakan pada 30 Juli 2024 di Pos 5 Posyandu Seruni) yakni berupa penyuluhan terkait pentingnya stok ikan di masa depan yang disampaikan oleh Karil Hari Latu, mahasiswa dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK), penyuluhan terkait pencegahan stunting melalui GEMARIKAN oleh Novia Gavina, mahasiswi dari Fakultas Perikanan dan Ilmu kelautan (FPIK), serta penyuluhan terkait deteksi dini stunting melalui pengenalan aplikasi Langkaholeh Ghina Syakila, mahasiswi Fakultas Psikologi (FPsi).

    Pada kegiatan pelatihan pembuatan abon, setelah sambutan pembuka dari kepala desa yang mengungkapkan dukungan penuh terhadap program ini, salah satu mahasiswa mulai menjelaskan tentang kandungan gizi ikan tongkol. I Kadek Hari Kesuma yang merupakan mahasiswa jurusan Teknologi Pangan Fakultas Peternakan dan Pertanian (FPP) memaparkan terlebih dahulu mengenai cara-cara pengolahan dan penyimpanan produk perikanan yang aman dan sesuai standar Food Safety and Management System (FSMS). Pengetahuan ini sangat relevan, terutama dalam konteks pencegahan stunting —suatu kondisi yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi, yang dapat memengaruhi pertumbuhan fisik dan kemampuan kognitif anak.

    Lalu, mahasiswa mulai mendemonstrasikan cara pembuatan abon dimulai dari pengenalan bahan-bahan yang diperlukan. Mahasiswa juga membagikan selebaran resep dan cara pembuatan agar audiens bisa langsung membaca secara detail mulai dari keperluan bumbu hingga takaran yang tepat sehingga dapat diterapkan di rumah. Mahasiswa KKN melakukan pembuatan abon dari awal hingga akhir proses yakni pengemasan produk akhir. Setiap tahap dilalui dengan antusiasme tinggi, di mana peserta saling berbagi pengetahuan dan pengalaman, mulai dari menyimak pemisahan tulang ikan, pencampuran bahan, pengadukan abon, hingga penirisan. Setelah ditiriskan, kemudian I Kadek Hari Kesuma juga mengadakan pelatihan mengenai cara pengemasan vakum menggunakan alat pengemas vauum sealersehingga abon mempunyai daya simpan yang tahan lama.

    Pengalaman praktis ini tidak hanya membuat peserta lebih terampil dalam mengolah ikan menjadi abon, tetapi juga menyadarkan mereka bahwa produk ini dapat menjadi sumber pendapatan tambahan. Abon ikan tongkol yang dihasilkan memiliki rasa yang lezat dan nilai jual yang menarik, sehingga diharapkan bisa menjadi produk khas Desa Bebel yang bisa dijajakan di pasar. Selain itu, mahasiswa juga membagikan resep dan panduan lainnya agar peserta dapat mempraktikkan ilmu yang diperoleh dan terus berinovasi di rumah.

    Kegiatan pelatihan ini memberikan dampak yang jauh lebih dari sekadar keterampilan praktis. Setelah mengikuti pelatihan, peserta merasa lebih termotivasi untuk mengelola sumber daya lokal dengan lebih baik. Harapan besar tumbuh bahwa, dengan memperkuat keterampilan dan pengetahuan, mereka dapat berkontribusi pada peningkatan ekonomi keluarga dan komunitas. Dalam konteks pencegahan stunting, kesadaran akan pentingnya asupan gizi yang baik juga meningkat, mendorong masyarakat untuk lebih memperhatikan pola makan keluarga, terutama bagi anak-anak.

    Pelatihan diakhiri dengan makan abon bersama di Balai Desa. Mahasiswa KKN dari Universitas Diponegoro merasa bangga dapat memberikan kontribusi positif bagi masyarakat Desa Bebel. Program pelatihan ini diharapkan bukan hanya sebuah kegiatan satu kali, tetapi merupakan langkah awal untuk membangun kesadaran gizi yang lebih baik dan mendorong produktivitas ekonomi di desa. Diharapkan kedepannya, kegiatan semacam ini dapat terus berlanjut, memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat, dan menjadikan Desa Bebel sebagai desa yang tidak hanya produktif dan inovatif, tetapi juga sehat.

    Penulis: Mahasiswa KKN Tim 2 Universitas Diponegoro di Desa Bebel

    Dosen Pembimbing Lapangan: Dr. Tuswan, ST

  • Mahasiswa KKN UNDIP Luncurkan Strategi Digital Marketing, UMKM Desa Bebel Bersiap Go Digital!

    Bebel, 26 Juli 2024— Seiring dengan perkembangan teknologi yang semakin pesat, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) dari Universitas Diponegoro meluncurkan sebuah inisiatif inovatif yang bertujuan untuk memberdayakan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Desa Bebel melalui penerapan strategi digital marketing. Program ini merupakan bagian dari upaya meningkatkan daya saing UMKM lokal di era digital.

    Dalam pelaksanaan program KKN ini, para mahasiswa bekerja sama dengan perangkat desa dan para pelaku UMKM untuk mengidentifikasi tantangan dan peluang yang dihadapi dalam pemasaran produk secara online. Mereka menyusun strategi pemasaran digital yang disesuaikan dengan kebutuhan spesifik UMKM di desa tersebut, mulai dari pembuatan konten kreatif, penggunaan media sosial, hingga pemanfaatan platform e-commerce.

    Gambar 1. Mahasiswa KKN UNDIP Mendampingi Warga dalam Melakukan Penitikan di Google Maps

    Salah satu mahasiswa KKN yang terlibat, Daniel Oka Anjaramano, menyatakan bahwa program ini didorong oleh kebutuhan UMKM untuk beradaptasi dengan tren digital yang semakin mendominasi pasar. “Kami melihat bahwa banyak UMKM di Desa Bebel memiliki produk berkualitas, namun kurang dikenal luas karena keterbatasan akses dan pengetahuan tentang pemasaran digital. Dengan strategi yang kami rancang, kami berharap dapat membantu mereka mencapai pasar yang lebih luas dan meningkatkan penjualan mereka,” ujar Daniel.

    Selain itu, program ini juga mencakup pendampingan dalam penitikan lokasi usaha di Google Maps. Langkah ini dianggap krusial karena akan memudahkan pelanggan menemukan lokasi UMKM secara langsung, meningkatkan visibilitas usaha, dan mempermudah interaksi dengan konsumen. “Dengan adanya titik lokasi di Google Maps, konsumen dari luar daerah pun bisa dengan mudah menemukan lokasi usaha, yang tentunya bisa meningkatkan kunjungan dan penjualan,” tambah Daniel.

     

    Gambar 2. Penjelasan Langkah - Langkah Penitikan Lokasi Usaha di Google Maps

    Program ini juga melibatkan pelatihan dan workshop untuk para pelaku UMKM agar mereka bisa memahami dan menerapkan strategi digital marketing secara mandiri. Bu Juningsih, salah satu pelaku UMKM di Desa Bebel, mengungkapkan antusiasmenya terhadap program ini. “Saya sangat senang karena akhirnya bisa belajar cara memasarkan produk saya secara online. Selama ini, saya hanya mengandalkan penjualan dari mulut ke mulut dan pasar lokal. Dengan bantuan dari mahasiswa KKN, saya yakin usaha saya bisa berkembang lebih besar lagi,” katanya.

    Kepala Desa Bebel, Pak Wahyudi, turut mengapresiasi langkah yang diambil oleh para mahasiswa KKN ini. Menurutnya, program ini sangat relevan dengan kebutuhan UMKM di desa, terutama di tengah tantangan ekonomi global yang menuntut inovasi dan adaptasi. “Kami sangat mendukung inisiatif ini karena UMKM adalah tulang punggung ekonomi desa. Dengan digitalisasi dan bantuan teknologi seperti Google Maps, kami berharap UMKM Desa Bebel bisa bersaing di pasar yang lebih luas,” ujarnya.

    Program KKN ini diharapkan dapat memberikan dampak jangka panjang bagi UMKM di Desa Bebel, tidak hanya dalam hal peningkatan penjualan, tetapi juga dalam pengembangan kapasitas sumber daya manusia yang lebih adaptif terhadap teknologi. Mahasiswa KKN berencana untuk terus mendampingi para pelaku UMKM dalam beberapa bulan ke depan untuk memastikan bahwa strategi yang telah disusun dapat diimplementasikan dengan baik.

    Gambar 3. Foto Bersama Perangkat Desa dan Para Pelaku UMKM

    Dengan adanya program ini, UMKM Desa Bebel kini siap melangkah ke era digital, memperkuat posisinya di pasar, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa secara keseluruhan.

    Penulis: Mahasiswa KKN Tim 2 Universitas Diponegoro di Desa Bebel

    Dosen Pembimbing Lapangan: Dr. Tuswan, ST

© 2025 Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Pekalongan. All Rights Reserved.